Minggu, 01 Januari 2017

Ragam Cara Warga Jakarta Nikmati Malam Tahun Baru 2017

 link daftar http://pangeran3.com/home/register/230892601828


Warga Jakarta dan sekitarnya belum juga berhenti menyerbu kawasan Monas dan Acol, Jakarta. Berbagai cara dilakukan untuk menikmati malam pergantian tahun 2016 ke 2017.
Di kawasan Monas memang tidak menyajikan hiburan yang signifikan. Bahkan pengelola Monas melarang adanya pembakaran kembang api saat pergantian tahun.

Kondisi ini tidak menyurutkan niat warga untuk datang ke Monas merayakan malam tahun baru. Sambil menunggu detik-detik pergantian tahun, berbagai kegiatan dilakukan.
Seorang warga, Syalia mengatakan, dirinya bersama 4 rekannya sengaja datang ke Monas untuk sekedar menghabiskan waktu diakhir tahun. Dia memilih berfoto-foto sambil berbincang.
"Cuma nongkrong saja. Foto-foto. Kalau makanan kan di sini banyak tinggal beli. Jadi santai saja di sini," kata Syalia
Hal berbeda dilakukan Indah. Indah membawa serta keluarganya untuk merayakan tahun baru di Monas.

"Ya kita bikin kayak piknik saja. Bawa tikar, makanan. Bisa makan bareng keluarga di sini. Enggak hujan juga kan enak jadinya," jelas Indah.
Sedangkan, Aji datang hanya dengan sang istri. Pria paruh baya itu memilih bersantai sambil berbaring di atas tikar yang dibelinya di pintu masuk Monas.
"Nikmatin malam sambil tiduran di sini. Anginnya juga adem jadi santai," singkat dia.
Tak jauh dari Monas, kawasan Bundaran HI dan Jalan Thamrin tetap ramai dipenuhi oleh warga meski tanpa Car Free Night (CFN) batal digelar. Mereka merayakan malam pergantian tahun baru 2017.
Suara terompet dan bunyi petasan mewarnai jantung ibu kota tersebut. Selain itu, warga juga terlihat duduk lesehan bersantai di pinggir kolam Bundaran HI. Tak jarang dari mereka yang juga mengabadikan momen di Bundaran HI dengan melakukan foto bersama.
Selain warga, Bundaran HI juga dipenuhi oleh para pedagang yang mencoba mengambil keuntungan pada saat pergantian tahun. Mulai dari tukang makanan, aksesoris tahun baru hingga aksesoris dijajakan di sekitar Bundaran HI, mereka umumnya berjualan mengambil tempat di trotoar jalan.
Arus lalu lintas di Bundaran HI masih terbilang normal. Belum terlihat kemacetan berarti dan kendaraan dari dan menuju Bundaran HI jumlahnya masih terpantau cukup normal.



Sementara itu, hampir 200.000 orang memadati Ancol. Setiap pantai di Ancol punya hiburan tersendiri, pusatnya di acara SCTV dan Ancol di Pantai Karnaval. Para pengunjung punya cara masing-masing dalam menikmati akhir tahun mereka.
Ada yang datang dengan keluarga, kekasih, teman dan karib kerabat. Mereka ada yang menonton di tengah kerumunan, ada yang menonton dari jauh, ada pula yang menyendiri, menikmati semilir angin di Pantai Utara Jakarta ini.
Tak sedikit pula dari mereka yang menikmati malam dengan cara berbeda. Keluarga Ani misalnya, mereka menaiki mobil, dan menonton hiburan musik dari sana. Bebas dari copet, bebas dari desak-desakan dan dengan pandangan yang lebih lapang.
"Asyik saja, lagian kan mengurangi kepadatan, cukup di atas mobil," kata Ani, yang membawa suami dan anak-anaknya menonton hiburan musik di pantai karnaval Ancol.
Lain lagi ribuan orang yang tak peduli dengan pengunjung lainnya, mereka menggelar tikar di sembarang tempat. Hingga mobilitas pengunjung benar-benar terhambat. Untuk jarak 20 meter saja di kawasan pantai karnaval, membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sebab, tanpa rasa bersalah, ribuan orang itu menutupi setiap celah yang ada.
"Sudah capek, anak-anak juga sudah ngantuk," kata Rusni seorang pengunjung yang membawa anak dan keponakannya.
Berbeda dengan ribuan pengunjung di pantai Lagoon. Mereka bahkan mendirikan tenda. Memasak dengan kompor mini, dan benar-benar kemping di tengah-tengah pengunjung yang menikmati hari terakhir 2016.
"Kami enggak dapat cottage, padahal datang dari jauh," jelas Yani, pengunjung yang mendirikan tenda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar